Namaku Kintan. Aku tak tahu apa arti dari Kintan, yang jelas itu bukan nama sebuah marga, nama turunan keluarga ataupun lainnya. Mungkin kedua orangtuaku memberiku nama Kintan hanya ingin sekedar mencari sebuah perbedaan saja. Akh, apalah arti sebuah nama. Meskipun nama bagus tapi tak bisa mencirikan bahwa orang itu akan bagus juga. Persetan dengan nama orang-orang yang mampu menunjukkan derajatnya. Bagiku, nama bagus ataupun nama aneh sepertiku tetaplah sebuah nama yang menunjukkan identitas seseorang.
Wanita sepertiku seharusnya telah memiliki apa yang selama ini menjadi separuh dari perjalanan hidupnya. Aku seharusnya telah merasakan apa yang seharusnya dirasakan bagi seorang wanita yang telah menginjak sebuah kedewasaan. Ya, nikmat berumahtangga. Bukannya tak ada lelaki yang mau menjadi pendamping hidupku. Setiap hari aku selalu saja harus menghadapi berpuluh-puluh lelaki yang datang ke rumahku hanya untuk melamarku dan mempersuntingku. Tapi semuanya kutolak dengan halus, sangat halus, namun kadang sedikit kasar. Aku seorang yang cantik –kata orang-orang di sekitarku bahkan aku masih dicap sebagai bunga kampung kami. Banyak orang heran dengan kecantikanku dan selalu bilang bahwa aku memiliki takdir yang salah. Seharusnya aku ditakdirkan hidup di kota besar bukan ditakdirkan hidup di sebuah perkampungan yang sangat terpencil dan dipagari gunung-gunung terjal. Namun aku tak menyesal hidup di lingkungan seperti ini. Tak pernah.
Aku sungguh sangat senang lahir dan dibesarkan di sini. Tubuhku berkembang dengan alami tanpa bantuan zat-zat kimia yang mungkin merusak tubuhku secara taklangsung. Aku senang bergaul dengan orang-orang dusun yang sederhana dan tak berlebih-lebihan seperti kebanyakan orang kota. Dan yang paling berharga, aku sangat senang bisa mengenal mas Karno, lelaki yang sangat berharga bagi kehidupanku. Ya, karena mas Karnolah aku bisa mengenal apa yang disebut dengan cinta. Sebuah cinta sejati yang tak mungkin aku lupakan dan aku acuhkan. Mas Karno, meskipun banyak lelaki-lelaki lain yang lebih gagah dan berwibawa dari dia, aku tetap memilih mas Karno sebagai pelabuhan cintaku. Aku merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Aku nyaman berada di pelukannya, dihangati oleh hangat tubuhnya, dihibur dengan perkataannya yang bijak hingga aku ingin sekali diajak mas Karno untuk menempuh perjalanan hidupku ini berdua dengannya. Menikmati pemandangan desa berdua dan mengolah sawah sepetak mas Karno berdua dengan tak lupa mengajak cinta dan canda dalam setiap hari-harinya, menghasilkan keturunan hanya dengan mas Karno. Mungkin itulah kebahagiaan yang paling indah sepanjang hidupku.
Tetapi, boleh saja aku mengkhayal yang indah-indah tentang mas Karno namun dalam kenyataanya tak pernah bisa aku wujudkan sekarang. Mas Karno pergi meninggalkanku merantau ke tanah orang lain hanya untuk melangsungkan hidupnya. Ia bilang bahwa jika ia terus-menerus hidup di desa dan hidup dari hasil bertani ia takakan bisa bertahan hidup. Karena itulah, ia pergi merantau ke kota dan berjanji jika ia kembali lagi ke desa ia akan melamarku dan langsung menikahiku. Janji itu ia ucapkan di malam sebelum keberangkatannya merantau. Tepatnya di sebuah saung dimana aku pertama kali mencintai dia.
Aku tetap menunggu mas Karno kembali lagi ke desa meskipun ia telah pergi selama sebelas tahun. Sebelas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu seseorang yang entah dimana ia berada. Namun aku telah berjanji padanya untuk menanti ia pulang dan melamarku meski umurku makin hari makin tua.
Cinta memang selalu menguatkanku yang selalu setia menunggunya pulang. Cinta juga yang selalu menghiburku ketika aku bosan menunggunya sehingga aku kembali semangat menantinya. mas Karno tak kunjung datang bahkan memberi kabar keberadaannya pun tidak. Bagaimana bisa aku mengetahui kabarnya saat ini, bagaimana rupanya apakah ia masih seperti dulu, bagaimana suaranya apakah masih seperti dulu yang kuat terekam dalam ingatanku. Entahlah, yang jelas aku merindukannya. Rindu sampai kapanpun. Rindu sampai mati.
Ia berjanji akan membelikan sebuah selendang berwarna merah muda bercorak kembang-kembang yang sangat aku inginkan sejak kecil. Selendang itu akan ia pakai di pundakku sambil memasangkan sebuah kalung di leherku. Ia berjanji seperti itu dan aku yakin ia pasti akan menepati janjinya itu. Saat-saat itulah ia akan melamarku dan menempuh bahtera hidup baru bersamanya. Janji itu akan tetap kuingat meski itu diucapkan sebelas tahun yang lalu.
“Kapan mas pulang?” pertanyaan itu sudah beribu bahkan beratus-ratus kali kuajukan tanpa berkata. Dan mungkin saja nun jauh di sana mas Karno menjawab pertanyaanku lewat mimpi dan disampaikan padaku dalam bentuk mimpi pula. Sampai sekarang aku belum pernah temukan jawaban itu dalam mimpiku. mas Karno tak mungkin tak memiliki mimpi. Ia selalu bermimpi. Mimpi apa saja.
Kedua orangtuaku tak tahan melihatku menanti mas Karno sampai belasan tahun seperti ini. Mereka tak ingin aku tak menikah seumur hidupku dan menunggu sesuatu yang tak pasti. Mereka sudah tua renta dan tak ingin jika mereka mati tanpa sempat melihatku menikah dengan seorang lelaki. Karena itu mereka memaksaku untuk melupakan mas Karno selama-lamanya dan kawin dengan lelaki lain. Aku tidak mau menikah dengan lelaki lain yang tidak aku cinta. Aku hanya ingin menikah dengan mas Karno.
Sampai suatu saat mereka melakukan hal yang sangat aku takutkan selama ini. Mereka menjodohkanku dengan putra seorang juragan sapi di desaku. Wijil nama lelaki itu. Mereka menjodohkanku dengan Wijil tanpa sempat membicarakan rencana ini denganku. Aku tak mau menikah dengannya. Wijil tak cocok denganku. Aku hanya cocok dengan mas Karno sampai kapanpun. Sempat kutolak rencana ini namun mereka mengancam akan bunuh diri jika aku tak mau menikah. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa menangisi takdirku ini.
Aku berharap semoga sebelum aku menikah dengan Wijil, mas Karno telah kembali ke desa ini dan langsung melamarku. Kalaupun ia belum siap, aku harus paksa dia untuk membawaku pergi ke sebuah tempat dan di sana kami akan hidup berdua. Sehari, dua hari, tiga hari kutunggu ia pulang namun ia tak kunjung datang. Kedua orangtuaku sepakat untuk melangsungkan pernikahanku akhir minggu ini yang itu berarti tak kurang dari dua hari lagi. Dalam dua hari itu kuharap mas Karno pulang dan itu berarti jodohku memang mas Karno. Tapi kalau bukan, biarlah aku lari dari takdir ini dan membatalkan pernikahan apapun alasannya, kalau perlu jika memang bunuh diri lebih baik daripada aku menikah dengan Wijil maka aku akan lakukan itu.
Orang-orang dan keluargaku mulai sibuk mempersiapkan pesta pernikahan ini. Ada yang menyiapkan bahan-bahan masakan, mendekor rumah. Aku pun dilarang oleh orangtuaku untuk keluar rumah. Aku diharuskan untuk diam di kamar hingga acara pernikahan itu tiba. Suara orang-orang yang mengobrol dan bercanda tawa terdengar jelas dari balik pintu kamar. Derai tawa ibu bersama para tetangga menghiasi setiap kamar. Sayup-sayup terdengar suara mas Karno memanggilku di sela-sela suara tertawa. Astagfirullahaladzim, Gusti aku terlalu merindukan mas Karno hingga selalu terbayang dirinya dimana pun aku ada. Suara mas Karno itu makin kuat terdengar di telingaku seakan-akan mas Karno ikut membantu menyiapkan pesta ini.
Hingga malam menjelang bayangan mas Karno makin kuat di pikiranku. Bahkan wujud mas Karno seakan-akan terlihat di kamar ini berdiri menatapku dengan pandangan cintanya. Namun semuanya menghilang begitu aku sadar semua ini hanya ilusi dan tak nyata. Kalaupun mas Karno telah pulang, ia akan datang dengan cara normal layaknya manusia bukan dengan bayangan lalu tiba-tiba menghilang seperti ini. Akh, mengapa cinta kepadanya begitu kuat menancap di hatiku sehingga tak mampu aku cabut kembali oleh cinta yang lain. Cinta memang tak mudah lekang. Bahkan waktu sendiri tak dapat menghancurkannya.
***
Tadi malam aku bermimpi melihat sebuah kejadian yang sangat mengerikan entah dimana. Aku berada di sebuah hutan yang sangat lebat dan di hadapanku terlihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Banyak orang-orang yang dibunuh oleh pasukan yang semuanya bersenjata. Disiksa terlebih dahulu kemudian orang-orang itu dijajarkan dalam satu banjar barisan tanpa mengenakan busana. Setelah itu mereka ditembak satu persatu hingga terkapar tak bernyawa lagi. Jerit orang-orang yang dijemput ajal itu sangat menusuk indera pendengaranku. Hingga bangun pun aku tak bisa melupakan bagaimana jerit kesakitan orang-orang itu.
Aku tak tahu apakah mimpi itu sebuah pertanda atau hanya bunga tidur saja. Yang masih aku ingat dari mimpi itu, mas Karno ada di antara orang-orang yang ditembak satu persatu itu. Masih kuingat bagaimana rupanya sewaktu di mimpi sangat bersih dan bercahaya, ia tersenyum padaku dengan senyum termanis yang pernah aku lihat darinya seumur hidupku. Apakah ini pertanda mas Karno akan pergi meninggalkanku? Entahlah, waktu pernikahanku semakin dekat dan mas Karno tak kunjung datang padaku untuk mengajakku menikah dengannya.
Hingga siang datang padaku, ia tak kunjung datang dan menemuiku. Apakah benar mas Karno bukan jodohku? Kalau memang ia bukan milikku, aku akan berpegang teguh pada janjiku kemarin jika aku tak menikah dengan mas Karno maka bunuh diri akan lebih baik daripada menikah dengan orang lain. Biarlah di dunia ini aku tak bersamanya, yang penting setelah aku mati aku akan bebas mengunjungi alam mimipnya semau hatiku.
Kuambil sebuah selendang putih yang panjang. Mungkin cukup untuk menggantungkan tubuhku di langit-langit kamar. Kutatap langit-langit kamar, wajah mas Karno kembali ada di sana tersenyum lirih padaku hingga akhirnya menghilang entah kemana. Dua ekor cicak saling bermain di langit-langit mengingatkanku pada masa-masa indah bersama mas Karno di saat senja memerahkan pesawahan desaku. Masa-masa yang barangkali takakan pernah kualami lagi sepanjang hidupku. Jika Gusti memang mengizinkan untuk menelusuri waktu-waktu yang kemarin, maka aku akan kembali ke zaman sebelas tahun yang lalu dimana masih ada mas Karno dalam hatiku dan takakan melepas dia pergi sebelum ia menikahiku.
Selendang putih ini menjadi saksi perkenalanku dengan dirinya hingga akhirnya kembali menjadi saksi kematianku yang selalu mengenang dan merindukan mas Karno. Aku tak ingin apa-apa lagi di dunia ini, hanya ingin mas Karno dan mas Karno. Hanya dia seorang. Tak lebih dari itu.
Mimpi itu kembali terbayang dalam ingatanku saat ini. Apakah ini pertanda bahwa mas Karno telah meninggal karena dibantai? Aku mencoba mengusir semua ketakutan ini karena aku yakin mas Karno akan datang padaku malam ini. Aku yakin.
Senja telah menghilang dari balik ufuk barat. Secara berangsur-angsur cahaya merah kemilau senja menghilang menjadi gelap yang tak terbatas. Inilah malam, dunia kegelapan yang membuatku merasa terasing dari kehidupan luar. Terasing menunggu seseorang yang tak kunjung datang padaku mengungkapkan perasaan yang selama sebelas tahun tertunda tanapa ada alasan. Perasaan yang sangat aku tunggu-tunggu untuk diungkapkan sebelum semuanya musnah ketika mentari pagi terbit kembali. Mas Karno tak kunjung datang juga padaku. Tetes air mata mulai membasahi pipiku yang kata orang putih dan lembut. Derai tawa orang-orang di luar mekin terdengar jelas saja di telingaku dan selalu saja suara memenggilku sesekali terdengar yang diucapkan oleh mas Karno. Akh, segalanya selalu ada mas Karno dan mas Karno. Aku membayangkan nanti malam Mas Karno akan datang padaku dan membawaku pergi bersamanya ke sebuah tempat dimana kami bisa mereguk cinta kami yang setelah sekian tahun tertahan oleh tembok yang tebal dan tinggi.
Malam semakin tua, suara orang-orang mulai menghilang. Mungkin mereka semua telah beristrahat, pikirku. Besok adalah pernikahanku dengan Wijil dan mas Karno tak kunjung datang. Memikirkan hal seperti ini sungguh sangat berat bagiku. Apakah mungkin cintaku pada mas karno akan tersampaikan. Bagaimana jika aku takpernah bisa bercinta lagi dengan mas Karno? kaumbil selendang putihku itu. Kutarik kursi yang berada di pojok kamar dan kuletakkan di tengah. Naiklah aku ke kursi itu sambil mengikatkan selendang ke palang tempat lampu sekencang mungkin. Ujung selendang itu kubuat simpul yang sesuai dengan ukuran kepalaku. Setelah semuanya selesai, akhirnya niatku untuk bunuh diri terlaksana juga. Kuusap air mataku mencoba tegar hadapi kenyataan bahwa aku akan mati malam ini. Belum sempat aku memasukkan kepalaku ke dalam simpul itu, diluar perkiraan terdengar suara yang mencegahku.
“Kintan, aku datang padamu.”
Suara itu… suara itu… akh aku tak pernah lupa akan suara itu. Mas Karno datang padaku. aku turun dari kursi dan menghampiri dirinya.
“Mas Karno, Kintan rindu sama mas. Selama sebelas tahun Kintan selalu menunggu mas Karno. Aku ingin selalu ada bersama mas.” Kataku sambil memeluk tubuhnya. Kurasakan tubuhnya sangat dingin tak seperti sebelas tahun yang lalu ketika aku memeluknya, hangat. Satu hal lagi, ia sangat harum malam ini.
“Aku juga sayang sama kamu. Maafkan jika aku meninggalkan kamu selama sebelas tahun lamanya.” Jawabnya lembut.
“Kapan mas akan melamarku? Aku selalu menunggu saat yang indah ini, aku selalu menunggu mas membawaku menikmati biduk cinta berdua.”
“Aku tentu tak akan lupa dengan janji itu. Hari ini juga aku bawakan selendang berwarna merah muda bercorak kembang-kembang yang dulu pernah aku janjikan padamu.” Ia pakaikan selendang itu di bahuku. Kutatap wajahnya, bersih dan bercahaya. Wajah yang takakan pernah dilupakan oleh waktu begitu saja.
“Kapan kita menikah? Jika mas tak ajak aku menikah malam ini, besok adalah saat pernikahanku dengan Wijil. Aku hanya ingin menikah dengan mas.” tanyaku.
Mas Karno terdiam, pandangannya kosong menatap ke arahku. Seperti ada yang dirahasiakan dariku yang mungkin tak ingin aku tahu. Lama kami terdiam tanpa kata hingga akhirnya ia ungkapkan semuanya.
“Sewaktu aku meninggalkan kamu. Di tengah perjalanan di hutan Kambang. aku dicegat oleh sepeasukan tentara yang bersenjata lengkap. Tanpa basa-basi lagi mereka menangkapku dengan tidak memberikan alasan yang jelas. Mereka membawaku ke sebuah tempat di mana terdapat puluhan orang yang semuanya sangat menderita. Belum selesai keherananku, mereka langsung menyiksaku tanpa ada interograsi terlebih dahulu. Akhirnya aku sadar bahwa aku dituduh sebagai pasukan pemberontak yang mengancam pemerintah. Mereka terus menyiksaku tanpa henti hingga akhirnya aku tak mampu lagi untuk menhahan semua perih selama beberapa tahun disiksa. Aku tak sadar lagi, tubuhku entah ke mana. Aku mengembara lagi untuk mencarimu.” kata mas Karno dengan jelas.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku lemas bagai tak bertulang mendegar ceritanya. Lebih heran lagi apa yang telah diceritakan oleh mas Karno mirip dengan mimpi yang aku alami semalam. Jadi mimpi itu memang nyata dan benar-benar terjadi dialami oleh mas Karno.
Tetes air mata kembali membasahi pipiku. Mas Karno mengusap air mataku dengan jarinya. Dingin kurasakan tangannya ketika menyentuh pipiku. “Jadi sekarang mas telah…….?” Tanyaku menutupi ketidakpercayaanku.
Kulihat wajahnya sangat terpukul. Dengan duara yang terbata-bata ia menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sangat menggergaji hatiku.
“Maafkan aku Kintan, aku tak bisa memenuhi janjiku padamu. Semoga kau berbahagia dengan Wijil dan aku berbahagia di sana.”
Lemaslah tubuhku mendengar semuanya. Mas Karno telah tiada, sebuah kepastian yang tak bisa ditawar lagi. Jadi selama ini aku menunggu seseorang yang sebenarnya telah meninggal. Dalam ketidakpercayaan ini, mas Karno mengangkat wajahku dan mendekatkan ke wajahnya. Ia menciumku dengan penuh sayang. Ciuman yang pertama kali sekaligus terakhir kalinya. Setelah menciumku, ia menghilang dengan menjelma menjadi butiran-butiran bercahaya yang terbang ke atas dan meninggalkanku sendiri yang tak bisa mempercayai apa yang telah terjadi. Harum mas Karno menyeruak memenuhi ruangan kamarku dan bertahan mungkin sampai pagi menghapus semuanya.
Selendang yang ia berikan masih terpakai di bahuku. Tanpa pikir panjang lagi, aku naik ke atas kursi dan menggantungkan diriku untuk menyusul kepergian mas Karno yang telah lebih dahulu pergi. Aku tersenyum pahit akhirnya dengan aku menyusul kematiannnya maka aku akan bersama mas Karno sampai kapanpun. Kepala kumasukan ke dalam simpul selendang dan menggeser kursi itu dari pijakanku hingga akhirnya aku tergantung meregang nyawa.
“Mas Karno, tunggulah Kanti. Kanti akan menyusulmu.”