Feed on
Posts
comments

jauhi aku

Jauhi aku,,

Karena aku tak ingin kamu terlalu mencintai aku, mengharap aku untuk kembali menjadi yang terbaik untukmu. Dan jika memang keputusan ini membuatmu terluka, maafkanlah aku. Tapi ini yang terbaik bagi kita untuk bisa melupakan semua yang terjadi kemarin. Semua “cinta” yang pernah mengisi jiwa kita yang kosong kemarin. Cinta memang indah, tetapi cinta perpisahan merupakan sesuatu yang menyakitkan namun manis. Ya, manis. Jika kau cerna baik-baik dan kau sadari semua keputusanku, kau akan temukan makna yang terpendam dari apa yang telah aku lakukan padamu. Maafkanlah aku, lupakanlah aku.

MELATI HITAM

Ketika pada zaman modern ini para orang tua begitu tulus merawat dan menyayangi anak-anaknya, aku malah ditakdirkan untuk tidak mendapat kasih sayang yang tulus dari ibu kandungku. Ya, ibuku yang telah susah payah melahirkan aku ke dunia ini dengan peluh keringat bercampur anyir darah yang keluar bersamaan dengan keluarnya diriku dari sebuah lubang yang gelap dan sempit di tubuhnya. Mungkin saat itu aku tak pernah tahu siapa ayahku karena selama aku melihat dunia untuk pertama kalinya, belum pernah aku disentuh dan digendong oleh seorang jenis manusia yang akhirnya kutahu bahwa itu adalah jenis laki-laki dan ibu adalah seorang perempuan. Aku tak pernah tahu bagaimana rupa ayahku, nama ayahku, bau tubuhnya, suaranya, bahkan kata “ayah” saja bagiku sangat asing di telingaku.
Kata ibuku dulu, ia melahirkan aku bukan pada tempat yang semestinya dengan dibantu bidan atau tenaga medis lainnya melainkan di sebuah tempat pembuangan sampah. Aku tak tahu kebenaran dari cerita ibu tersebut yang selalu diceritakannya padaku sambil membentakku dan memukulku hingga wajahku lebam. Aku tak pernah memasalahkan di mana aku dilahirkan yang penting aku bisa lahir ke dunia ini dan merasakan hidup yang kata orang-orang cuma sekali terjadi. Walau kenyataannya hidupku jauh dari harapan.
Dibesarkan di lingkungan yang tak layak untuk hidup aku tak pernah merasakan arti kasih sayang dari seorang ibuku. Ibuku tiap hari hanya merokok kretek sambil berdandan merias diri dengan make up murahan yang menjadi andalannya untuk tampil di muka umum. Tiap malam ia pergi berkelana entah ke mana entah dengan siapa yang jelas selalu saja ada mobil jemputan ketika maghrib menjelang ketika orang-orang melakukan ibadah kepada Tuhannya memohon ampun. Mobil itu membawa ibuku pergi dan kembali lagi saat adzan subuh berkumandang. Katanya ia pergi mencari nafkah untuk diriku, tapi aku tak tahu apakah uangnya itu halal atau tidak.
Jangan tanya bagaimana aku tumbuh menjadi seorang anak manusia. Ketika anak-anak lain pagi hari minum susu hangat dan sarapan roti selai lalu bersiap-siap berangkat ke sekolah, aku malah disuguhi setumpuk baju-baju kotor dan peralatan bekas makan serta tentu saja makian dan tamparan dari ibuku. Setelah itu aku siap-siap berangkat ke sekolah. Aku memang pernah sekolah, tapi hanya sampai kelas tiga. Kata Ibu ia tak mampu lagi membayar uang sekolahku. Jadi tinggallah aku seorang anak putus sekolah yang tiap hari kerjaannya hampir sama dengan seorang pembantu rumah tangga yang disiksa oleh majikannya.
Kadang aku selalu menangis sendiri meratapi diri yang menderita. Sendiri saja, karena aku tak mempunyai seorang teman yang mendengarkan keluh kesahku. O Tuhan, mengapa aku lahir dari rahim ibuku? Mengapa aku tidak lahir dari rahim ibu-ibu lain yang baik hatinya dan selalu meyayangiku setiap waktu. Tapi, ibuku tetaplah ibuku. Meskipun ia kasar terhadapku, meskipun ia tak pernah berlaku manis padaku, meskipan ia selalu menganggap aku adalah anak haram, ia adalah seorang ibuku. Ibu kandungku yang telah susah payah melahirkan aku ke dunia ini. Aku hanya berharap suatu saat Tuhan membuka hati ibuku dan menyayangiku seperti ibu-ibu lain.
Pernah suatu malam aku terbangun dari tidurku karena mendengar deru mobil parkir di depan rumahku (mungkin lebih tepat disebut gubuk). Kulihat juga ibu membuka pintu rumahku sambil dipeluk oleh seorang laki-laki yang tak kukenal. Mereka masuk ke kamar tidur ibuku dan mengunci pintunya rapat-rapat. Aku mengintip dari sela-sela bilik dinding yang sedikit bolong. Dari sana aku melihat ibu dipeluk, dicium. Sambil tertawa ibu membuka pakaiannya dan begitu juga laki-laki itu. Aku melihat juga mereka saling bergumul di tempat tidur yang reyot sambil merintih-rintih. Aku tak mau lagi melihat mereka karena memang bukan seseuatu yang boleh aku lihat. Mungkinkah laki-laki itu adalah ayahku? Tapi wajahnya sama sekali tidak mirip denganku. Lantas siapakah laki-laki itu? pikirku dalam hati.
Esoknya aku tanyakan semuanya pada ibuku tentang laki-laki itu tentang semua hal yang dilakukan ibu dengan laki-laki tersebut. Namun ibu malah menjawab pertanyaanku dengan jambakan ke rambutku dan pukulan yang bertubi-tubi ke arah wajahku sambil berkata-kata kasar yang semestinya tak diucapkan oleh seorang ibu. Akhirnya aku hanya bisa menangis dalam hati karena jika aku kelihatan menangis di depan ibuku ia akan semakin hebat menyiksaku. Aku akhirnya tak lagi menanyakan pertanyaan itu pada ibuku meskipun ia selalu melakukan hal yang sama dengan laki-laki lain di rumahku.
Ketika masa remajaku menjelang, aku tumbuh menjadi seorang gadis yang kata orang-orang aku seorang gadis yang cantik. Memang aku cantik, tetapi kecantikanku itu tertutup oleh penderitaanku yang sangat kelam dan bekas-bekas luka penyiksaan oleh ibuku. Ibu semakin tua dan kurus. Tubuhnya sangat kurus dan tak ada lagi daging yang menempel di kulitnya. Kutahu ibuku memang sakit tapi entah sakit apa. Mungkin TBC atau hepatitis karena ibu selalu keluar malam. Atau mungkin ibu terkena virus HIV tapi aku tak mau ibuku terkena penyakit seperti itu. Membayangkannya saja aku sudah mual.
Keadaan keluarga kami semakin terpuruk. Ibu taklagi setangguh dan selincah dahulu yang selalu membawa uang yang lumayan ketika pagi hari ia pulang. Dengan uang itu ia masih bisa menyediakan makan bagiku walaupun hanya seadanya. Tapi sekarang sangat jauh berbeda. Penghasilan ibu kini hanya cukup untuk makan satu kali bahkan tak jarang ibu pulang tak membawa uang. Ibu pulang hanya membawa bau nikotin dan alkohol sambil muntah-muntah dan batuknya semakin parah. Tinggal aku yang berjuang untuk hidup dengan menjadi pemulung yang setiap hari mengaduk-ngaduk sampah di pinggiran kota.
Suatu hari ibuku memanggilku, ia menyuruhku duduk di hadapannya. Aku sudah pasrah ia pasti akan memukulku atau membentakku lagi. Ternyata dugaanku meleset. Ia berbicara padaku dengan suara yang tenang dan lemah lembut. Baru kali ini aku mendengar ibu berbicara selembut itu. Ia menyuruhku untuk bekerja di sebuah tempat yang katanya itu adalah tempat penyaluran pembantu rumahtangga. Kata ibu penghasilannya sangat lumayan. Ibu menyuruhku untuk pergi ke sana menjadi pembantu. Aku menurut saja karena memang aku ingin membantu perekonomian keluargaku. Pergilah aku ke sana seorang diri dengan segenggam harapan untuk mengubah hidup.
Sesampainya di tempat yang dirujuk oleh ibu, aku dipersilakan untuk bertemu dengan manajernya. Ternyata ia adalah seorang perempuan tua yang dandanannya menurutku sangat berlebihan bahkan bisa dibilang menor. Ia menyambutku dengan hangat sambil memelukku. “Bawa gadis ini ke dalam dan percantik ia. Barang bagus seperti ini harus diamankan. Ia akan menjadi primadona” kata perempuan itu kepada asistennya sambil membawaku ke suatu tempat. Setelah itu aku menjadi lebih cantik dan mereka menempatkan aku ke sebuah kamar untuk menunggu siapa yang menyewaku menjadi pembantu.
Malam menjelang, mereka memanggilku dan membawaku keluar. Katanya ada keluarga yang mau menyewa jasaku. Aku bergegas menemui keluarga itu. Ketika bertemu, keluarga itu hanya diwakili oleh seorang lelaki yang dari tampilannya ia mungkin seorang pengusaha. Tanpa banyak basa-basi lagi laki-laki itu membawaku pergi dengan mobil. Ketika kutanya akan ke mana ia menjawab bahwa aku akan dibawanya ke rumanya untuk menjadi pembantu. Pergilah kami dengan mobil entah ke mana jauh sekali kukira karena aku tak pernah bertamasya. Mungkin rumahnya di luar kota, pikirku. Selama perjalanan, aku membayangkan bahwa kini aku bisa memnuhi kebutuhan keluargaku dan akhirnya aku bisa juga menopang keluargaku yang hanya terdiri dari ibuku dan aku sendiri. Tunggulah bu, aku akan pulang sambil membawa uang.
Tiba di rumah lelaki itu aku sempat berpikir jangan-jangan aku bukannya dijadikan pembantu malah dijadikan waniat panggilan seperti apa yang ibu kerjakan dulu. Pikiran itu terus saja membayang-bayang di pikiranku karena aku tak mau keperawananku hilang begitu saja. Aku tak ingin menjadi ibu yang harus meladeni puluhan lelaki dalam satu malam. Aku tak mau pekerjaan itu. Sangat hina.
Ketika hampir mendekat ke pintu rumah, pikiran-pikiran aneh itu sudah takbisa kubendung lagi kuputuskan untuk meninggalkan lelaki dan rumah besar itu dan lari sejauh mungkin. Aku lari meninggalkan laki-laki yang termangu melihatku pergi tapi kemudian berlari mengejarku. Aku berlari tanpa arah dalam kegelapan malam tanpa ditemani cahaya satu pun sedang di belakangku laki-laki itu mengejarku dengan mobilnyayang hampir saja aku tersusul. Secara refleks aku membelok ke kanan sekali lagi tanpa cahaya dan menabrak apa pun yang ada di depanku. Entah tempat apa itu aku tak tahu, entah di mana sekarang aku berada yang penting aku kabur menjauhi dia. Aku tak ingin menjadi pelacur seperti ibu. Aku takingin kesucianku hilang demi mendapatkan sesen rupiah. Mengapa takdir sangat kelam terhadapku sampai-sampai aku terikat dengan segala kepelacuran ibu yang sangat aku benci. Aku muak. Aku berlari terus meski kurasakan kakiku terluka. Pemandanganku gelap sehingga aku tak tahu tempat apa yang aku masuki sekarang. Mungkin hutan atau kebun. Aku tak tahu.
Tiba-tiba aku aku terjatuh dan terperosok ke dalam lubang yang sangat dalam. O Tuhan apakah ini lubang atau jurang? Aku teringat dulu sewaktu kecil aku pernah jatuh ke dalam lubang drainase air yang sedang dibetulkan saat aku pulang sekolah. Namun lubang itu tak terlalu dalam dan aku hanya mengalami luka-luka kecil. Jatuhku kali ini sangat berbeda, aku belaum mencapai dasar dari lubang ini. Berapa dalam sebenarnya lubang ini? Mengapa sangat gelap sekali? Hingga akhirnya aku sadar bahwa aku jatuh bukan jatuh ke lubang, tapi aku jatuh ke jurang. Akh, takdir, apakah aku harus mati di tempat yang tak kukenal. Apakah Tuhan menakdirkan ajalku akan berakhir di sini. Demi uang aku menjadi seperti ini. Demi ibu yang semakin kurus oleh penyakitnya yang tak tahu apa penyakitnya karena takpernah diperiksakan ke dokter. Aku jadi teringat ibuku di rumah, sedang apa dia malam ini. Apakah ia sedang melayani laki-laki belang di tengah penyakitnya yang ganas. Atau ia sedang menanti kedatanganku membawa uang yang banyak untuk kembali mempercantik dirinya dengan make up murahannya. Atau mungkin ia sedang merokok kretek kesukaannya sambil terbatuk-batuk. Aku jadi rindu akan ibuku.
Akhirnya aku sampai ke dasar jurang itu dengan membentur batu dan aku terpental sampai beberapa jauh. Tubuhku takbisa kurasakan lagi, semuanya sudah berlumuran darah. Kepalaku retak. Kulihat tanganku telah terlepas dari tempatnya dan seluruh tubuhku berlumuran darah. Aku akan mati disini, di tempat yang sangat asing dan gelap seperti waktu aku dilahirkan dulu. Aku tersenyum. Senyum kematian. Senyum yang hanya dilakukan ketika kematian akan menjemput. Aku kembali lagi teringat ibu. Ibu yang kejam dan selalu menganggapku anak haramnya. Ada kerinduan yang sangat dalam terhadap ibu. Karena sekarang aku ingin katakan kepada ibu bahwa aku masih perawan. Meskipun ibu beniat menipuku dan menjual tubuhku, aku masih tetap perawan sampai ada seseorang yang akan menjadi jodohku dan kita akan hidup bersama. Saat itulah aku akan menyerahkan keperawananku pada orang yang kucintai itu sebagai jalinan suami-istri yang kan mengarungi biduk kehidupan. Aku masih perawan bu, seperti bunga melati yang selalu harum meski ia tumbuh di tempat yang kotor hingga melati itu berubah warnanya menjadi hitam. Namun, sekali melati tetaplah melati.

Bandung, 23 November 2008

Tolong jangan biarkan aku tertidur malam ini. Biarkan aku terjaga melihat dunia di bawahku sambil mendengarkan cerita-ceritamu tentang alam semesta. Aku ingin mataku selalu membuka dan terus melihat parasmu yang menenteramkan hatiku. Aku takut ketika aku pejamkan mataku hanya sedetik saja, aku takakan melihat indah dunia lagi selamanya. Aku masih ingin hidup bersamamu, mereguk nikmat yang kata orang dinamakan cinta dan itu sungguh indah tak mungkin dilupakan. Aku masih ingin melihatmu, menggenggam tanganmu, memelukmu, mendengarkan suaramu, menangkap makna di kedua bola matamu, melantunkan melodi malam lewat merdu suaramu, melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit sambil berbicara tentang masa depan, dan banyak lagi yang ingin kulakukan bersamamu. Hanya bersamamu saja.
Entah sampai kapan pikiranku selalu terikat oleh bayangan wajahmu yang semakin kuat menghantui pikiranku. Semakin dalam semakin kuat. Meski harus kutelusuri ribuan kilometer jalan yang kutempuh hanya untuk mengikutimu, mengikuti langkahmu. Aku ingin selalu bersamamu hingga ujung waktu yang telah dijanjikan oleh Sang Penguasa Kehidupan. Sampai kapanpun. Sampai mati. Walau banyak rintangan yang menghadang, akan kudobrak rintangan itu bersamamu dan biarkan kami bersama sampai mati. Sampai mati. Sampai semua tak hidup lagi.
Mati bukanlah sesuatu yang kutakutkan. Tapi aku tak ingin mati sekarang, karena aku belum puas bersamamu. Biarkan aku mati setelah aku puas bersamamu, tapi ternyata takpernah kurasa puas ada dalam hatiku. Semakin lama bayanganmu semakin kuat bermain di pikiranku entah sampai kapan. Mungkin esok, lusa, tahun depan, sampai perubahan musim yang membawa angin kehidupan baru. Sampai burung-burung tak berkicau lagi. Sampai mentari tak lagi menyinari pagi. Sampai waktu tak lagi berjalan. Aku ingin bersamanya.
Apa lagi yang harus kukatakan untuk membuktikan sayangku?
Kita memang tak pernah sadar, bahwa kita sebenarnya telah terikat oleh sebuah perasaan yang sama. Namun kita enggan menyentuh perasaan itu entah mengapa. Apakah kita memang egois untuk berusaha jujur tentang perasaan itu atau kita masih kanak-kanak untuk membicarakan itu. Entahlah. Kita memang terperangkap, mungkin oleh cinta. Ya cinta, sebuah perasaan aneh yang sebenarnya manis untuk dijalani. Apakah kita memang dijerat oleh cinta? Pertanyaan ini dapat kita jawab hanya dalam hati kita.
Cinta memang indah, namun hati-hati cinta dapat membuat kita lupa akan segalanya. Cinta juga yang bisa membuat kita mati. Mati secara perlahan-lahan dan takpernah kita sadari bahwa kita telah mati. Memang mencintai dan dicintai adalah sesuatu hal yang menjadi kodrat manusia, tetapi aku tak ingin ketika mencintai dirimu, aku takbisa lagi melihat semua yang indah yang pernah aku lihat dulu. Maksudku, aku memang mencintai dirimu tetapi tidak secara berlebihan. Aku ingin mencintaimu secara sederhana saja seperti penyair*) itu tuliskan dalam sajaknya. Penyair yang kita kagumi. Dengan mencintaimu secara sederhana, itulah keinginan terbesarku yang telah aku idam-idamkan padamu. Kau jangan khawatir akan cintaku, meskipun sederhana cintaku ini utuh dan tulus. Tulus seperti mentari yang selalu menghangatkan pagi . tulus seperti bintang yang menghiasi langit malam yang membuat malam menjadi indah di dalam gelapnya.
Jika kau bertanya padaku, ketika kau akan dilahirkan kembali ke dunia ini nanti setelah kita mati kau akan menjadi apa? Aku akan menjawab pertanyaanmu dengan sangat sederhana, aku ingin menjadi senja yang berkilauan. Mengapa aku memilih senja? Karena senja adalah saat-saat yang penuh dengan kemilau dan keindahan. Meski ia hanya sebentar saja menyinari dunia dan hilang menjadi gelap, aku tak peduli. Saat-saat seperti inilah yang akan dikenang oleh semua orang. Ia akan dirindukan orang untuk kembali menyinari dunia esok harinya. Karena itulah aku ingin menjadi senja. Walau aneh kedengarannya.
Tolong, jangan biarkan aku tertidur malam ini. Aku ingin bersamamu melupakan semua penat yang telah terjadi hari ini. Sejenak saja aku ingin bersandar di bahumu menikmati kehangatan dari dirimu yang mungkin saja tak akan kurasakan lagi. Sebelum kau menjelma menjadi butir-butir dan hilang di udara. Sebelum angin malam membawamu pergi. Sebelum pagi menghapusmu dan embun kan membasahi tubuhmu, jangan biarkan aku tertidur malam ini. Siapa tahu jika aku tertidur, aku tak akan terbangun lagi selamanya. Hal itulah yang membuatku mual. Tolong lakukan pintaku, karena aku menyayangimu…

Jatinangor, 15 Oktober 2008
Kupersembahkan untuk hari ulang tahunku ini….

*) penyair Sapardi Djoko Damono
Entah sampai kapan pikiranku selalu terikat oleh bayangan wajahmu yang semakin kuat menghantui pikiranku. Semakin dalam semakin kuat. Meski harus kutelusuri ribuan kilometer jalan yang kutempuh hanya untuk mengikutimu, mengikuti langkahmu. Aku ingin selalu bersamamu hingga ujung waktu yang telah dijanjikan oleh Sang Penguasa Kehidupan. Sampai kapanpun. Sampai mati. Walau banyak rintangan yang menghadang, akan kudobrak rintangan itu bersamamu dan biarkan kami bersama sampai mati. Sampai mati. Sampai semua tak hidup lagi.

Tolong jangan biarkan aku tertidur malam ini. Biarkan aku terjaga melihat dunia di bawahku sambil mendengarkan cerita-ceritamu tentang alam semesta. Aku ingin mataku selalu membuka dan terus melihat parasmu yang menentramkan hatiku. Aku takut ketika aku pejamkan mataku hanya sedetik saja, aku takakan melihat indah dunia lagi selamanya. Aku masih ingin hidup bersamamu, mereguk nikmat yang kata orang dinamakan cinta dan itu sungguh indah tak mungkin dilupakan. Aku masih ingin melihatmu, menggenggam tanganmu, memelukmu, mendengarkan suaramu, menangkap makna di kedua bola matamu, melantunkan melodi malam lewat merdu suaramu, melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit sambil berbicara tentang masa depan, dan banyak lagi yang ingin kulakukan bersamamu. Hanya bersamamu saja.
Mati bukanlah sesuatu yang kutakutkan. Tapi aku tak ingin mati sekarang, karena aku belum puas bersamamu. Biarkan aku mati setelah aku puas bersamamu, tapi ternyata takpernah kurasa puas ada dalam hatiku. Semakin lama bayanganmu semakin kuat bermain di pikiranku entah sampai kapan. Mungkin esok, lusa, tahun depan, sampai perubahan musim yang membawa angin kehidupan baru. Sampai burung-burung tak berkicau lagi. Sampai mentari tak lagi menyinari pagi. Sampai waktu tak lagi berjalan. Aku ingin bersamanya.
Apa lagi yang harus kukatakan untuk membuktikan sayangku?
Kita memang tak pernah sadar, bahwa kita sebenarnya telah terikat oleh sebuah perasaan yang sama. Namun kita enggan menyentuh perasaan itu entah mengapa. Apakah kita memang egois untuk berusaha jujur tentang perasaan itu atau kita masih kanak-kanak untuk membicarakan itu. Entahlah. Kita memang terperangkap, mungkin oleh cinta. Ya cinta, sebuah perasaan aneh yang sebenarnya manis untuk dijalani. Apakah kita memang dijerat oleh cinta? Pertanyaan ini dapat kita jawab hanya dalam hati kita.
Cinta memang indah, namun hati-hati cinta dapat membuat kita lupa akan segalanya. Cinta juga yang bisa membuat kita mati. Mati secara perlahan-lahan dan takpernah kita sadari bahwa kita telah mati. Memang mencintai dan dicintai adalah sesuatu hal yang menjadi kodrat manusia, tetapi aku tak ingin ketika mencintai dirimu, aku takbisa lagi melihat semua yang indah yang pernah aku lihat dulu. Maksudku, aku memang mencintai dirimu tetapi tidak secara berlebihan. Aku ingin mencintaimu secara sederhana saja seperti penyair*) itu tuliskan dalam sajaknya. Penyair yang kita kagumi. Dengan mencintaimu secara sederhana, itulah keinginan terbesarku yang telah aku idam-idamkan padamu. Kau jangan khawatir akan cintaku, meskipun sederhana cintaku ini utuh dan tulus. Tulus seperti mentari yang selalu menghangatkan pagi . tulus seperti bintang yang menghiasi langit malam yang membuat malam menjadi indah di dalam gelapnya.
Jika kau bertanya padaku, ketika kau akan dilahirkan kembali ke dunia ini nanti setelah kita mati kau akan menjadi apa? Aku akan menjawab pertanyaanmu dengan sangat sederhana, aku ingin menjadi senja yang berkilauan. Mengapa aku memilih senja? Karena senja adalah saat-saat yang penuh dengan kemilau dan keindahan. Meski ia hanya sebentar saja menyinari dunia dan hilang menjadi gelap, aku tak peduli. Saat-saat seperti inilah yang akan dikenang oleh semua orang. Ia akan dirindukan orang untuk kembali menyinari dunia esok harinya. Karena itulah aku ingin menjadi senja. Walau aneh kedengarannya.
Tolong, jangan biarkan aku tertidur malam ini. Aku ingin bersamamu melupakan semua penat yang telah terjadi hari ini. Sejenak saja aku ingin bersandar di bahumu menikmati kehangatan dari dirimu yang mungkin saja tak akan kurasakan lagi. Sebelum kau menjelma menjadi butir-butir dan hilang di udara. Sebelum angin malam membawamu pergi. Sebelum pagi menghapusmu dan embun kan membasahi tubuhmu, jangan biarkan aku tertidur malam ini. Siapa tahu jika aku tertidur, aku tak akan terbangun lagi selamanya. Hal itulah yang membuatku mual. Tolong lakukan pintaku, karena aku menyayangimu…

Jatinangor, 15 Oktober 2008
Kupersembahkan untuk hari ulang tahunku ini….

*) penyair Sapardi Djoko Damono

Tentang blog ini

blog orang kesepian mah gini

blog anak sastra juga pasti gini

jangan heran dan terpaku…

karena ini hanya tulisan

Tentang fitrah.

Fitrah itu adalah suci……….

Tapi mengapa ada orang yang masih saja dendam terhadap orang yang dibencinya?

apakah fitrah itu hanya ada dalam lebaran saja?

apakah fitrah tak pernah ada di hari-hari lainnya yang sebenarnya sangat membutuhkan fitrah itu sendir?,

Apakah fitrah hanya berlaku pada saat lebaran saja sedangkan di hari lain ia hanya disimpan saja di gudang menunggu sampai lebaran tahun depan?

Aku tak mengerti tentang manusia.

Kuliah……………….

Ngeband………………

pacaran………………..

ngerjain tugas……………..

ngurus mabim…………………

apa tidak ada kegiatan tolol lainnya?

Barangkali………

Kenyataan memang sangat melelahkan. Ketika aku sudah menyenangi kebohongan dalam menggunakan hidupku ini, sekarang aku harus dihadapkan pada sebuah kenyataan yang sudah tentu tak bisa aku tutup-tutupi atau aku ubah kenyataan itu menjadi sebuah kebohongan dan lelucon. Sungguh tak mampu aku terima kenyataan ini meski aku sudah berusaha tegar, meski aku sudah berusaha senyum mecoba akrab dengannya tetap saja aku takbisa.

Orang yang aku sayangi telah menjadi milik orang lain, orang yang selama ini menyemangatiku, menceriakan hidupku, mencintai dan menyayangiku kni smeua telah sirna sudah. Takada lagi sayang seperti dahulu. Takada lagi cinta dan keceriaan seperti dahulu. Semua harus kukubur dan kutenggelamkan di dalam perut bumi, bahkan hingga kerak bumi sekali pun. Mencoba mengusir perasaan cinta dan sayang yang selama ini menguatkan aku dan menghilangkannya dan sekejap saja. Entah harus ada yang terluka parah atau depresi, tapi aku harus lakukan itu semua sebelum semuanya terlambat.

Memang mudah sekali mendapatkan cinta seperti ini, namun yang bikin susah adalah mengokohkan cinta itu agar cinta itu kuat dan bertahan lama. Ketika cinta itu telah menjadi benteng yang kokoh dan berlapis baja, ada satu serangan dari dirinya yang tak kuduga-duga selama ini menghancurkan benteng yang tegak di depan mata hingga hancurlebur dan tak menyisakan apa-apa. Sungguh amat disayangkan, ternyta cnta yang aku bangun tak layak jadi sebuah bangunan kokoh yang nantinya akan dipakai sebagai hunian aku dan dia……………

Menangis?

Masa laki-laki menangis karena ini?

Tidak.

Buat apa aku menangisi ini? Takada untungnya bagiku. Toh, jika aku menangis pun takakan ada yang mendengar dan mengerti tangisanku. Masa jika aku menangis cinta itu akan kembali lagi seperti dahulu? Lebih baik aku diam. Diam tanpa kata. Diam menyepi bertemankan kesunyian dan keterasingan. Entah mengapa sekarang aku menyukai sunyi. Mungkin karena sunyi yang mampu mendengar kesedihanku, keterpurukanku. Jika sunyi itu berwujud seorang perempuan, akan kucintai ia.

Diam dalam malam. Sendirian di sudut kamar, menulis ribuan kata yang disusun menjadi kalimat hingga akhirnya menjadi paragraf dan lama kelamaan menjadi sebuah teks. Hal-hal seperti itulah yang membuatku bahagia. Menulis dan menulis. Tak peduli jika tulisan ini orang anggap jelek, orang anggap murahan, sampah, bahkan menertawakan kecengenganku. Tak masalah. Yang penting bagiku, aku senang bisa menulis seperti ini karena dengan menulis, aku bahagia kembali. Aku juga senang aku diberi kemampuan merangkaikan kata-kata seperti ini, tidak seperti orang-orang yang tak bisa menulis padahal dia belajar di sastra dan bisanya hanya mencela dan mengagumi bahkan mengerutkan dahi karena tak mengerti tulisan-tulisanku.

Pokoknya………

Semoga kalian menjadi pasangan yang saling mengerti dan memahami satu sama lain. Tidak seperti diriku yang takbisa dipahami oleh orang kebanyakan. Aku senang kau bisa kembali mendapatkan cinta dan bercengkrama dengannya seperti dahulu lagi ketika bersamaku. Kau bertanya, “bagaimana denganku?” aku jawab, “jika aku memang membutuhkan cinta, aku pasti mencarinya, sekarang aku ingin menyendiri terasing terlebih dahulu.” itu jawabanku atas pertanyaanmu.

Selamat berbahagia dengan kekasihmu yang baru diaz, aku akan selalu mencintaimu meski kau selalu menunjukkan punggungmu padaku.

Jakarta, 02 Oktober 2008

Curhatan diriku

Mengapa selalu saja tak selesai-selesai kuterjemahkan pikiranmu di pikiranku?

Aku ingin sekali mengertikan pikiranmu itu, karena pikiranmu penuh denga cinta sedangkan aku tak satu pun di pikirannku cinta bersemayam…………..

untuk Cyndiaz fajarwati R.

maafkan aku ya yang telah menyakiti hatimu, meski aku masih mencintaimu dan kau pun juga begitu…

tapi aku tak tahu harus bagaimana lagi mempertahankan hubungan cinta kita yang selalu saja ada masalah, dan masalah…..

Tapi kau tak perlu gelisah, kau tak perlu sedih,

aku akan selalu menyayangimu dan selalu ada untukmu sampai kapapn pun….

Oia, aku juga mengharapkan kita buat kambali lagi merajut hubungan cinta kita yang penuh dengan kenangan, aku ingin sekali menikmati kembali saat-saat indah itu………………

Namaku Kintan

Namaku Kintan. Aku tak tahu apa arti dari Kintan, yang jelas itu bukan nama sebuah marga, nama turunan keluarga ataupun lainnya. Mungkin kedua orangtuaku memberiku nama Kintan hanya ingin sekedar mencari sebuah perbedaan saja. Akh, apalah arti sebuah nama. Meskipun nama bagus tapi tak bisa mencirikan bahwa orang itu akan bagus juga. Persetan dengan nama orang-orang yang mampu menunjukkan derajatnya. Bagiku, nama bagus ataupun nama aneh sepertiku tetaplah sebuah nama yang menunjukkan identitas seseorang.
Wanita sepertiku seharusnya telah memiliki apa yang selama ini menjadi separuh dari perjalanan hidupnya. Aku seharusnya telah merasakan apa yang seharusnya dirasakan bagi seorang wanita yang telah menginjak sebuah kedewasaan. Ya, nikmat berumahtangga. Bukannya tak ada lelaki yang mau menjadi pendamping hidupku. Setiap hari aku selalu saja harus menghadapi berpuluh-puluh lelaki yang datang ke rumahku hanya untuk melamarku dan mempersuntingku. Tapi semuanya kutolak dengan halus, sangat halus, namun kadang sedikit kasar. Aku seorang yang cantik –kata orang-orang di sekitarku bahkan aku masih dicap sebagai bunga kampung kami. Banyak orang heran dengan kecantikanku dan selalu bilang bahwa aku memiliki takdir yang salah. Seharusnya aku ditakdirkan hidup di kota besar bukan ditakdirkan hidup di sebuah perkampungan yang sangat terpencil dan dipagari gunung-gunung terjal. Namun aku tak menyesal hidup di lingkungan seperti ini. Tak pernah.
Aku sungguh sangat senang lahir dan dibesarkan di sini. Tubuhku berkembang dengan alami tanpa bantuan zat-zat kimia yang mungkin merusak tubuhku secara taklangsung. Aku senang bergaul dengan orang-orang dusun yang sederhana dan tak berlebih-lebihan seperti kebanyakan orang kota. Dan yang paling berharga, aku sangat senang bisa mengenal mas Karno, lelaki yang sangat berharga bagi kehidupanku. Ya, karena mas Karnolah aku bisa mengenal apa yang disebut dengan cinta. Sebuah cinta sejati yang tak mungkin aku lupakan dan aku acuhkan. Mas Karno, meskipun banyak lelaki-lelaki lain yang lebih gagah dan berwibawa dari dia, aku tetap memilih mas Karno sebagai pelabuhan cintaku. Aku merasa nyaman ketika berada di dekatnya. Aku nyaman berada di pelukannya, dihangati oleh hangat tubuhnya, dihibur dengan perkataannya yang bijak hingga aku ingin sekali diajak mas Karno untuk menempuh perjalanan hidupku ini berdua dengannya. Menikmati pemandangan desa berdua dan mengolah sawah sepetak mas Karno berdua dengan tak lupa mengajak cinta dan canda dalam setiap hari-harinya, menghasilkan keturunan hanya dengan mas Karno. Mungkin itulah kebahagiaan yang paling indah sepanjang hidupku.
Tetapi, boleh saja aku mengkhayal yang indah-indah tentang mas Karno namun dalam kenyataanya tak pernah bisa aku wujudkan sekarang. Mas Karno pergi meninggalkanku merantau ke tanah orang lain hanya untuk melangsungkan hidupnya. Ia bilang bahwa jika ia terus-menerus hidup di desa dan hidup dari hasil bertani ia takakan bisa bertahan hidup. Karena itulah, ia pergi merantau ke kota dan berjanji jika ia kembali lagi ke desa ia akan melamarku dan langsung menikahiku. Janji itu ia ucapkan di malam sebelum keberangkatannya merantau. Tepatnya di sebuah saung dimana aku pertama kali mencintai dia.
Aku tetap menunggu mas Karno kembali lagi ke desa meskipun ia telah pergi selama sebelas tahun. Sebelas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu seseorang yang entah dimana ia berada. Namun aku telah berjanji padanya untuk menanti ia pulang dan melamarku meski umurku makin hari makin tua.
Cinta memang selalu menguatkanku yang selalu setia menunggunya pulang. Cinta juga yang selalu menghiburku ketika aku bosan menunggunya sehingga aku kembali semangat menantinya. mas Karno tak kunjung datang bahkan memberi kabar keberadaannya pun tidak. Bagaimana bisa aku mengetahui kabarnya saat ini, bagaimana rupanya apakah ia masih seperti dulu, bagaimana suaranya apakah masih seperti dulu yang kuat terekam dalam ingatanku. Entahlah, yang jelas aku merindukannya. Rindu sampai kapanpun. Rindu sampai mati.
Ia berjanji akan membelikan sebuah selendang berwarna merah muda bercorak kembang-kembang yang sangat aku inginkan sejak kecil. Selendang itu akan ia pakai di pundakku sambil memasangkan sebuah kalung di leherku. Ia berjanji seperti itu dan aku yakin ia pasti akan menepati janjinya itu. Saat-saat itulah ia akan melamarku dan menempuh bahtera hidup baru bersamanya. Janji itu akan tetap kuingat meski itu diucapkan sebelas tahun yang lalu.
“Kapan mas pulang?” pertanyaan itu sudah beribu bahkan beratus-ratus kali kuajukan tanpa berkata. Dan mungkin saja nun jauh di sana mas Karno menjawab pertanyaanku lewat mimpi dan disampaikan padaku dalam bentuk mimpi pula. Sampai sekarang aku belum pernah temukan jawaban itu dalam mimpiku. mas Karno tak mungkin tak memiliki mimpi. Ia selalu bermimpi. Mimpi apa saja.
Kedua orangtuaku tak tahan melihatku menanti mas Karno sampai belasan tahun seperti ini. Mereka tak ingin aku tak menikah seumur hidupku dan menunggu sesuatu yang tak pasti. Mereka sudah tua renta dan tak ingin jika mereka mati tanpa sempat melihatku menikah dengan seorang lelaki. Karena itu mereka memaksaku untuk melupakan mas Karno selama-lamanya dan kawin dengan lelaki lain. Aku tidak mau menikah dengan lelaki lain yang tidak aku cinta. Aku hanya ingin menikah dengan mas Karno.
Sampai suatu saat mereka melakukan hal yang sangat aku takutkan selama ini. Mereka menjodohkanku dengan putra seorang juragan sapi di desaku. Wijil nama lelaki itu. Mereka menjodohkanku dengan Wijil tanpa sempat membicarakan rencana ini denganku. Aku tak mau menikah dengannya. Wijil tak cocok denganku. Aku hanya cocok dengan mas Karno sampai kapanpun. Sempat kutolak rencana ini namun mereka mengancam akan bunuh diri jika aku tak mau menikah. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa menangisi takdirku ini.
Aku berharap semoga sebelum aku menikah dengan Wijil, mas Karno telah kembali ke desa ini dan langsung melamarku. Kalaupun ia belum siap, aku harus paksa dia untuk membawaku pergi ke sebuah tempat dan di sana kami akan hidup berdua. Sehari, dua hari, tiga hari kutunggu ia pulang namun ia tak kunjung datang. Kedua orangtuaku sepakat untuk melangsungkan pernikahanku akhir minggu ini yang itu berarti tak kurang dari dua hari lagi. Dalam dua hari itu kuharap mas Karno pulang dan itu berarti jodohku memang mas Karno. Tapi kalau bukan, biarlah aku lari dari takdir ini dan membatalkan pernikahan apapun alasannya, kalau perlu jika memang bunuh diri lebih baik daripada aku menikah dengan Wijil maka aku akan lakukan itu.
Orang-orang dan keluargaku mulai sibuk mempersiapkan pesta pernikahan ini. Ada yang menyiapkan bahan-bahan masakan, mendekor rumah. Aku pun dilarang oleh orangtuaku untuk keluar rumah. Aku diharuskan untuk diam di kamar hingga acara pernikahan itu tiba. Suara orang-orang yang mengobrol dan bercanda tawa terdengar jelas dari balik pintu kamar. Derai tawa ibu bersama para tetangga menghiasi setiap kamar. Sayup-sayup terdengar suara mas Karno memanggilku di sela-sela suara tertawa. Astagfirullahaladzim, Gusti aku terlalu merindukan mas Karno hingga selalu terbayang dirinya dimana pun aku ada. Suara mas Karno itu makin kuat terdengar di telingaku seakan-akan mas Karno ikut membantu menyiapkan pesta ini.
Hingga malam menjelang bayangan mas Karno makin kuat di pikiranku. Bahkan wujud mas Karno seakan-akan terlihat di kamar ini berdiri menatapku dengan pandangan cintanya. Namun semuanya menghilang begitu aku sadar semua ini hanya ilusi dan tak nyata. Kalaupun mas Karno telah pulang, ia akan datang dengan cara normal layaknya manusia bukan dengan bayangan lalu tiba-tiba menghilang seperti ini. Akh, mengapa cinta kepadanya begitu kuat menancap di hatiku sehingga tak mampu aku cabut kembali oleh cinta yang lain. Cinta memang tak mudah lekang. Bahkan waktu sendiri tak dapat menghancurkannya.
***
Tadi malam aku bermimpi melihat sebuah kejadian yang sangat mengerikan entah dimana. Aku berada di sebuah hutan yang sangat lebat dan di hadapanku terlihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Banyak orang-orang yang dibunuh oleh pasukan yang semuanya bersenjata. Disiksa terlebih dahulu kemudian orang-orang itu dijajarkan dalam satu banjar barisan tanpa mengenakan busana. Setelah itu mereka ditembak satu persatu hingga terkapar tak bernyawa lagi. Jerit orang-orang yang dijemput ajal itu sangat menusuk indera pendengaranku. Hingga bangun pun aku tak bisa melupakan bagaimana jerit kesakitan orang-orang itu.
Aku tak tahu apakah mimpi itu sebuah pertanda atau hanya bunga tidur saja. Yang masih aku ingat dari mimpi itu, mas Karno ada di antara orang-orang yang ditembak satu persatu itu. Masih kuingat bagaimana rupanya sewaktu di mimpi sangat bersih dan bercahaya, ia tersenyum padaku dengan senyum termanis yang pernah aku lihat darinya seumur hidupku. Apakah ini pertanda mas Karno akan pergi meninggalkanku? Entahlah, waktu pernikahanku semakin dekat dan mas Karno tak kunjung datang padaku untuk mengajakku menikah dengannya.
Hingga siang datang padaku, ia tak kunjung datang dan menemuiku. Apakah benar mas Karno bukan jodohku? Kalau memang ia bukan milikku, aku akan berpegang teguh pada janjiku kemarin jika aku tak menikah dengan mas Karno maka bunuh diri akan lebih baik daripada menikah dengan orang lain. Biarlah di dunia ini aku tak bersamanya, yang penting setelah aku mati aku akan bebas mengunjungi alam mimipnya semau hatiku.
Kuambil sebuah selendang putih yang panjang. Mungkin cukup untuk menggantungkan tubuhku di langit-langit kamar. Kutatap langit-langit kamar, wajah mas Karno kembali ada di sana tersenyum lirih padaku hingga akhirnya menghilang entah kemana. Dua ekor cicak saling bermain di langit-langit mengingatkanku pada masa-masa indah bersama mas Karno di saat senja memerahkan pesawahan desaku. Masa-masa yang barangkali takakan pernah kualami lagi sepanjang hidupku. Jika Gusti memang mengizinkan untuk menelusuri waktu-waktu yang kemarin, maka aku akan kembali ke zaman sebelas tahun yang lalu dimana masih ada mas Karno dalam hatiku dan takakan melepas dia pergi sebelum ia menikahiku.
Selendang putih ini menjadi saksi perkenalanku dengan dirinya hingga akhirnya kembali menjadi saksi kematianku yang selalu mengenang dan merindukan mas Karno. Aku tak ingin apa-apa lagi di dunia ini, hanya ingin mas Karno dan mas Karno. Hanya dia seorang. Tak lebih dari itu.
Mimpi itu kembali terbayang dalam ingatanku saat ini. Apakah ini pertanda bahwa mas Karno telah meninggal karena dibantai? Aku mencoba mengusir semua ketakutan ini karena aku yakin mas Karno akan datang padaku malam ini. Aku yakin.
Senja telah menghilang dari balik ufuk barat. Secara berangsur-angsur cahaya merah kemilau senja menghilang menjadi gelap yang tak terbatas. Inilah malam, dunia kegelapan yang membuatku merasa terasing dari kehidupan luar. Terasing menunggu seseorang yang tak kunjung datang padaku mengungkapkan perasaan yang selama sebelas tahun tertunda tanapa ada alasan. Perasaan yang sangat aku tunggu-tunggu untuk diungkapkan sebelum semuanya musnah ketika mentari pagi terbit kembali. Mas Karno tak kunjung datang juga padaku. Tetes air mata mulai membasahi pipiku yang kata orang putih dan lembut. Derai tawa orang-orang di luar mekin terdengar jelas saja di telingaku dan selalu saja suara memenggilku sesekali terdengar yang diucapkan oleh mas Karno. Akh, segalanya selalu ada mas Karno dan mas Karno. Aku membayangkan nanti malam Mas Karno akan datang padaku dan membawaku pergi bersamanya ke sebuah tempat dimana kami bisa mereguk cinta kami yang setelah sekian tahun tertahan oleh tembok yang tebal dan tinggi.
Malam semakin tua, suara orang-orang mulai menghilang. Mungkin mereka semua telah beristrahat, pikirku. Besok adalah pernikahanku dengan Wijil dan mas Karno tak kunjung datang. Memikirkan hal seperti ini sungguh sangat berat bagiku. Apakah mungkin cintaku pada mas karno akan tersampaikan. Bagaimana jika aku takpernah bisa bercinta lagi dengan mas Karno? kaumbil selendang putihku itu. Kutarik kursi yang berada di pojok kamar dan kuletakkan di tengah. Naiklah aku ke kursi itu sambil mengikatkan selendang ke palang tempat lampu sekencang mungkin. Ujung selendang itu kubuat simpul yang sesuai dengan ukuran kepalaku. Setelah semuanya selesai, akhirnya niatku untuk bunuh diri terlaksana juga. Kuusap air mataku mencoba tegar hadapi kenyataan bahwa aku akan mati malam ini. Belum sempat aku memasukkan kepalaku ke dalam simpul itu, diluar perkiraan terdengar suara yang mencegahku.
“Kintan, aku datang padamu.”
Suara itu… suara itu… akh aku tak pernah lupa akan suara itu. Mas Karno datang padaku. aku turun dari kursi dan menghampiri dirinya.
“Mas Karno, Kintan rindu sama mas. Selama sebelas tahun Kintan selalu menunggu mas Karno. Aku ingin selalu ada bersama mas.” Kataku sambil memeluk tubuhnya. Kurasakan tubuhnya sangat dingin tak seperti sebelas tahun yang lalu ketika aku memeluknya, hangat. Satu hal lagi, ia sangat harum malam ini.
“Aku juga sayang sama kamu. Maafkan jika aku meninggalkan kamu selama sebelas tahun lamanya.” Jawabnya lembut.
“Kapan mas akan melamarku? Aku selalu menunggu saat yang indah ini, aku selalu menunggu mas membawaku menikmati biduk cinta berdua.”
“Aku tentu tak akan lupa dengan janji itu. Hari ini juga aku bawakan selendang berwarna merah muda bercorak kembang-kembang yang dulu pernah aku janjikan padamu.” Ia pakaikan selendang itu di bahuku. Kutatap wajahnya, bersih dan bercahaya. Wajah yang takakan pernah dilupakan oleh waktu begitu saja.
“Kapan kita menikah? Jika mas tak ajak aku menikah malam ini, besok adalah saat pernikahanku dengan Wijil. Aku hanya ingin menikah dengan mas.” tanyaku.
Mas Karno terdiam, pandangannya kosong menatap ke arahku. Seperti ada yang dirahasiakan dariku yang mungkin tak ingin aku tahu. Lama kami terdiam tanpa kata hingga akhirnya ia ungkapkan semuanya.
“Sewaktu aku meninggalkan kamu. Di tengah perjalanan di hutan Kambang. aku dicegat oleh sepeasukan tentara yang bersenjata lengkap. Tanpa basa-basi lagi mereka menangkapku dengan tidak memberikan alasan yang jelas. Mereka membawaku ke sebuah tempat di mana terdapat puluhan orang yang semuanya sangat menderita. Belum selesai keherananku, mereka langsung menyiksaku tanpa ada interograsi terlebih dahulu. Akhirnya aku sadar bahwa aku dituduh sebagai pasukan pemberontak yang mengancam pemerintah. Mereka terus menyiksaku tanpa henti hingga akhirnya aku tak mampu lagi untuk menhahan semua perih selama beberapa tahun disiksa. Aku tak sadar lagi, tubuhku entah ke mana. Aku mengembara lagi untuk mencarimu.” kata mas Karno dengan jelas.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku lemas bagai tak bertulang mendegar ceritanya. Lebih heran lagi apa yang telah diceritakan oleh mas Karno mirip dengan mimpi yang aku alami semalam. Jadi mimpi itu memang nyata dan benar-benar terjadi dialami oleh mas Karno.
Tetes air mata kembali membasahi pipiku. Mas Karno mengusap air mataku dengan jarinya. Dingin kurasakan tangannya ketika menyentuh pipiku. “Jadi sekarang mas telah…….?” Tanyaku menutupi ketidakpercayaanku.
Kulihat wajahnya sangat terpukul. Dengan duara yang terbata-bata ia menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sangat menggergaji hatiku.
“Maafkan aku Kintan, aku tak bisa memenuhi janjiku padamu. Semoga kau berbahagia dengan Wijil dan aku berbahagia di sana.”
Lemaslah tubuhku mendengar semuanya. Mas Karno telah tiada, sebuah kepastian yang tak bisa ditawar lagi. Jadi selama ini aku menunggu seseorang yang sebenarnya telah meninggal. Dalam ketidakpercayaan ini, mas Karno mengangkat wajahku dan mendekatkan ke wajahnya. Ia menciumku dengan penuh sayang. Ciuman yang pertama kali sekaligus terakhir kalinya. Setelah menciumku, ia menghilang dengan menjelma menjadi butiran-butiran bercahaya yang terbang ke atas dan meninggalkanku sendiri yang tak bisa mempercayai apa yang telah terjadi. Harum mas Karno menyeruak memenuhi ruangan kamarku dan bertahan mungkin sampai pagi menghapus semuanya.
Selendang yang ia berikan masih terpakai di bahuku. Tanpa pikir panjang lagi, aku naik ke atas kursi dan menggantungkan diriku untuk menyusul kepergian mas Karno yang telah lebih dahulu pergi. Aku tersenyum pahit akhirnya dengan aku menyusul kematiannnya maka aku akan bersama mas Karno sampai kapanpun. Kepala kumasukan ke dalam simpul selendang dan menggeser kursi itu dari pijakanku hingga akhirnya aku tergantung meregang nyawa.
“Mas Karno, tunggulah Kanti. Kanti akan menyusulmu.”

Older Posts »